Rintih Batinnya
Oleh : Anggi
Ismawati Tunggal Putri
Ia duduk tak
berdaya.
Di atas kursi tua.
Yang telah lapuk.
Usang termakan
usia.
Seperti lapuknya
jiwa-jiwa para pemimpin.
Pemimpin di negeriku tercinta.
Dulu ia seorang pejuang.
Dulu ia bergerilya mempertaruhkan semua daya
bahkan nyawa.
Semangat juangnya
masih kurasakan di antara gejolak.
Di
antara gejolak negeriku yang tak kunjung reda.
Ia seorang
pejuang yang masih hidup.
Rintih dan
rintih batinnya.
Bergejolak
semakin membara.
Merasakan betapa
rusak dan semakin parah negeri ini.
Banyak
tikus-tikus berkeliaran.
Mengambil setiap
keringat rakyat jelata.
Peraturan mereka
buat hanya untuk pajangan.
Hanya untuk
mengatur dan menghukum rakyat jelata.
Namun
mereka bebas bebas dan bebas.
Melakukan
setiap hasrat.
Dan
rintihannya hanya menjadi duri.
Yang
selalu menusuk dalam hati.
Teringat
betapa panjang dan penuh penderitaan dimasa penjajahan dulu.
Namun
kini anak cucunya yang menjajah dan menginjak-injak.
Semua
perjuangan hebat dimasa lalu.
Surabaya, 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar