Aku, Kau, dan Dandelion
Oleh : Anggi
Ismawati Tunggal Putri
Apa kau lihat bunga dandelion di semak-semak itu?
Wahai kau yang beraroma cat, kanvas, dan kuas.
Tampak kasian seorang diri dalam belukar.
Tanpa kertas untuk menulis ceritanya dalam diary.
Tanpa ibu untuk meninabobokkannya.
Belum lagi saat angin datang berpesta.
Semua mahkota putih lembutnya terampas oleh para serdadu angin.
Lalu dibawa terbang tanpa arah.
Entah kemana.
Lihatlah…saat ini dandelion menangis sedih karena kepala gundul nya
kelihatan.
Sepertinya dia malu terlihat oleh kita.
Kau pun yang beraroma cat,
kanvas, serta kuas berkata padaku.
Tidak, dandelion tidak menangis sedih.
Tetapi dandelion menangis bahagia.
Karena mahkota-mahkotanya pergi untuk memulai perjuangan.
Melawan angin, dinginnya udara, serta jalan tanpa plakat.
Untuk tiba di suatu tempat.
Lalu tumbuh beribu-ribu dan bahagia.
Magetan, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar